Kenapa Harus?

Bismillahirrohmaanirrohiim…

“Hidup bukan tentang kompetisi siapa yang menjuarai,
tapi hidup adalah menjalankan misi penciptaan diri”

Bulan maret sudah setengah jalan, belum satu pun muncul postingan. Apakah berarti saya tidak menulis? alhamdulillah tidak. Malah, dalam bulan maret ini saya punya program menulis untuk diriku sendiri. Hahaha..namanya 30 Hari menantang diri. Ala-ala 30haribercerita tapi dengan mematok jumlah kata. Minimal 300kata sesuai dengan persyaratan setoran KLIP. Alhamdulillah sampai hari ini masih konsisten. Saya mencoba meluangkan waktu untuk duduk sekitar 15-30 menit di depan laptop, menulis apa saja.

Tips melemaskan jari, membiasakan diri bermain kata, merangkai kalimat demi kalimat dengan menulis setiap hari ini saya dapatkan dari WAG KLIP. Kalau orang lain bisa, saya tentunya juga bisa, kan? #eh.

Sering gak sih mendengar ungkapan tersebut?“Kalau orang lain bisa, berarti aku juga bisa” atau bahkan “Kalau orang lain bisa, aku juga harus bisa”. Woww.. terdengar sangat optimis, kan? Tapi apakah memang benar seperti itu? Apakah harus seperti itu? atau apakah harus segitunya?

Tentang Niat

Setiap kita punya alasan sendiri saat melakukan apapun dalam hidup ini. Pun dalam hal motivasi, kita punya cara sendiri dalam memotivasi diri. Tapi perlu diingat kembali tentang keutamaan niat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Melakukan sesuatu karena terdorong dan termotivasi oleh orang lain adalah baik. Tapi akan lebih baik lagi jika kita selalu memperbaiki niat, berbuat sesuatu dengan niat karena Allah. Bukan ingin menunjukkan bahwa kita juga bisa melakukan seperti yang orang lain lakukan. Kebanggaan semu yang apabila terus menerus dilakukan bisa membuat hati membatu, hidup tak tenang penuh halu.

Kita diciptakan berbeda

Kalau orang lain bisa, aku juga harus bisa“. Duh mak, kata siapa? siapa yang mengharuskan? jangan ngadi-ngadi deh. Hidup ini sudah rumit, jangan dibikin makin sulit.

Setiap kita adalah unik, setiap manusia adalah istimewa. Tidak ada yang sama. Kita tidak dinilai dari hasil membandingkan diri dengan orang lain. Sejatinya, yang perlu dibandingkan adalah kita sekarang dibanding dengan kita yang dulu. Sudah lebih baikkah?

Hidup bukan tentang kompetisi siapa yang menjuarai, tapi hidup adalah menjalankan misi penciptaan diri. Lakukan apapun yang baik, dengan niat yang baik, dengan kesungguhan ikhtiar dan sepenuh pengharapan.

Klo orang lain bisa, kenapa aku harus -bisa juga- ?

Bukan, bukan berarti pesimis tanpa melakukan apapun, tapi melakukan yang terbaik versi kita sendiri. Setiap kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Punya jalan hidup dan ujian yang berbeda.

Bukan, bukan juga bermaksud antipati dengan jalan sukses orang lain. Tapi lebih pada proses pengendalian diri untuk tidak julid dan merumitkan diri sendiri. Dalam dunia ini, banyak sekali ilmu yang bisa kita pelajari. Termasuk jalan sukses orang lain.

Amati-Tiru-Modifikasi. Saat melihat orang lain bisa sukses di bidang tertentu, kita bisa belajar dari apa yang dia lakukan. Tanpa mengharuskan untuk melakukan yang sama, apalagi kecewa saat pencapaian yang dihasilkan tidak sama tingginya.

Kalau orang lain bisa A, kenapa kita harus bisa A juga? masih ada B sampai Z yang bisa kita lakukan yang sesuai dengan inginnya kita. Pun kalimat “kenapa aku harus?” ini juga bisa digunakan untuk meredam jiwa ambisius seorang ibu. :))

Tak perlu gegabah dengan bilang ke anak “Itu lo temenmu bisa, kamu juga pasti bisa”. Astaghfirullah, terasa gampang sekali kalimat itu keluar dari mulut seorang ibu. Tapi efeknya besar lo mak, yuk hindari menggunakan kalimat itu.

Sakit kan dibandingkan seperti itu? Ada banyak kalimat motivasi yang bisa kita kobarkan untuk memacu semangat anak. Tak perlu membandingkan, banyak sekali faktor penyerta, buat apa membandingkan sesuatu dengan standar yang tidak sama.

Yuk sama-sama berbenah, saya juga 🙂

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s