KLIP! Kelas Literasi Ibu Profesional

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Katanya istiqomah itu memang berat, kalau yang ringan namanya istirahat.

Materi di minggu kedua orientasi sambut semai kampung komunitas ibu profesional menyuguhkan tentang KLIP, Kelas Literasi Ibu Profesional.
Dari sinilah pertama kalinya aku tahu tentang KLIP. KLIP merupakan wadah untuk memfasilitasi para perempuan yang suka menulis untuk konsisten dalam membuat tulisan. KLIP berada di bawah pengurus pusat Ibu Profesional tetapi keanggotaan KLIP bersifat terbuka, non-IP pun bisa bergabung di dalamnya. KLIP menggunakan media facebook group untuk semua anggota dan whatsapp group hanya untuk anggota yang konsisten mendapat badge tiap bulannya.

Iya, siapa saja boleh bergabung KLIP, asalkan dia perempuan dan mau konsisten menulis. Sistemnya setoran, tiap hari hanya boleh setor satu tulisan. Dengan syarat minimal 300 kata. Dipersilakan menggunakan platform blog/website, instagram, facebook maupun google dokumen.

Itu saja syaratnya? Mudah dong ya?

Duaarr..kata siapa?

Katanya istiqomah itu memang berat, kalau yang ringan namanya istirahat.

Di bulan januari, alhamdulillah mendapatkan badge dasar. 11 tulisan berhasil disetor berkat ikutan 30haribercerita.

Setiap bulan, para anggota diberikan tautan untuk menyetorkan tulisan. Badge dasar diberikan untuk anggota yang mengumpulkan 10 tulisan. Badge excellent untuk mengapresiasi mereka yang berhasil membuat 20 tulisan dalam sebulan. Badge outstanding diberikan pada penulis terkonsisten dalam sebulan, 30 tulisan ( 27 tulisan untuk bulan februari dan 20 tulisan di bulan desember).

Aku tuh:

Suka menulis, ✅.
Konsisten, ❌.

Padahal di januari kemarin sudah sempat terbentuk kebiasaan. Beberapa waktu sebelum subuh belanja ide dan kemudian setelah subuh menyempatkan diri untuk menulis.
Walaupun hanya menulis caption di instagram tapi aku ingin menyampaikan pesan di setiap akhir tulisan. Setidaknya setelah selesai membaca, mereka menghela napas atau bergumam “oh iya ya”. Ada sesuatu yang didapat, apakah itu semangat, pengingat, senyuman hangat, tawa yang renyah seperti gorengan yang baru diangkat, atau apapun yang penting sesuatu yang bermanfaat.

Di bulan februari ini, yang namanya konsisten itu sedikit pudar. Kebiasaan yang terbentuk pun seperti berbelok dari garis edar.

Kini saatnya kembali memacu diri dan mengeja kembali arti konsistensi.

Dalam menulis, kita perlu mengajak pikiran berpetualang dan menjelajah segala sudut kemungkinan. Berikut tips yang pernah aku dapat dari 30haribercerita, tentang 13 jurus menjadi penjelajah dunia. Diambil dari buku “How to be an Explorer of the World” Keri Smith. Jurus-jurus yang bisa kita terapkan untuk memperoleh ide membuat tulisan.

Apakah 13 jurus itu?

  1. Selalu amati.
  2. Anggap segala sesuatu itu hidup dan bergerak.
  3. Semua hal itu menarik. Amati lebih dekat.
  4. Sering-seringlah mengubah pilihanmu.
  5. Amati sesuatu dalam waktu yang lama.
  6. Temukan cerita yang ada di sekitarmu.
  7. Peka terhadap pola, lalu buatlah koneksi diantaranya.
  8. Dokumentasikan temuanmu dengan banyak cara.
  9. Gabungkan ketidakpastian.
  10. Amati tiap pergerakan.
  11. Ciptakan dialog dengan apapun di sekitarmu.
  12. Telusuri asal muasal suatu hal.
  13. Gunakan semua indramu untuk investigasi.

Walaupun selama ini kendala menulisku bukan di ide, tapi 13 point di atas lumayan merefresh pikiran. Selanjutnya tinggal bagaimana memaksa diri untuk lebih konsisten lagi.

Yok bisa yok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s