Spesial buat Papah

Bandung, iya bandung, masih di Bandung, ibukota Jawa Barat.

Judulnya lebay-lebay asik. :p

Dari dulu saya sangat antusias ketika mempromosikan sebuah buku. Apalagi ke orang-orang terdekat. Ketika saya sedang jatuh cinta pada novel “Pengikat Surga”, iklan berbusa-busa ke adek dan mamah cantik pun dilakukan dengan intensif, sampai mengirim novel itu ke tempat mereka.

Sebulan lalu, saya sukaaa bangeet pada buku terbarunya Salim A Fillah : Lapis-Lapis Keberkahan. Bukunya lebih besar dan lebih tebal dari buku favorit saya sebelumnya, Dalam Dekapan Ukhuwah, buku non-fiksi, non-cerita yang saya baca sampai selesai tanpa diselingi novel apapun.

Terus apa hubungannya dengan judul lebay di atas?

Begini ceritanya, sebenarnya saya belum selesai baca buku ini, pun belum punya target pada siapa buku ini akan saya promosikan. Ketika suatu malam ngobrol-ngibril bareng papah, tiba-tiba “papaaaah aku barusan beli buku baguuusss bangeeetttttt”. Dan respon si papah adalah

Screenshot

Iya, papah ini pusing kalau baca komik.

Baiklah, agar hasrat promosi ini tersalurkan, saya akan tulis apa yang membuat saya jatuh cinta pada buku ini. Buku setebal 517 halaman, yang baru 30an halamannya saya baca, spesial buat Papah.

Bayangkan ketika membaca ini, papah sedang mendengarkan aku siaran radio pagi-pagi.

  • Tentang si pencari kebahagiaan, Salim menulis:

Bahagia adalah kata paling menyihir dalam kehidupan manusia. Jiwa merinduinya. Akal mengharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika difikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilang jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Di dengung telinga yang tak menyimak bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain berkilau bercahaya.

Salim melanjutkan di paragraf berikutnya:

Buku ini disusun dengan keinsyafan kecil; bahwa jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput menikmatinya sepanjang perjalanan. Bahwa jika bahagia dijadikan cita, kita akan kehilangan ia sebagai rasa. Bahwa jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan melalaikan kewajiban sebagai hamba. Bahwa jika bahagia dijadikan tema besar kehidupan, kita bisa kehilangan ia setelah kematian.

Semacam “solusi” dari Salim di paragraf selanjutnya:

Bahagia adalah kata yang tak cukup untuk mewakili segenap kebaikan. Maka buku ini bertajuk “Lapis Lapis Keberkahan”. Hidup kita umpama buah beraneka aroma, bentuk, warna, serta rasa; yang diiris-iris dan ditumpuk berlapis-lapis. Tapi irisan itu, punya wangi maupun anyirnya, lembut atau kasarnya, manis serta pahitnya, masam juga asinnya. Tapi kepastian dari-Nya dalam segala yang terindra itu ialah; ada gizi yang bermanfaat bagi ruh, akal dan jasad kita.

Ialah lapis lapis keberkahan. Mungkin bukan nikmat atau musibahnya, tapi syukur dan sabarnya. Bukan kaya atau miskinnya, tapi shadaqah dan doanya. Bukan sakit atau sehatnya, tapi dzikir dan tafakkurnya. Bukan sedikit atau banyaknya, tapi ridha dan qana’ahnya. Bukan tinggi atau rendahnya, tapi tazkiyah dan tawadhu’nya. Bukan kuat atau lemahnya, tapi adab dan akhlaqnya. Bukan sempit atau lapangnya, tapi zuhud dan wara’nya. Bukan sukar atau mudahnya, tapi ‘amal dan jihadnya. Bukan berat dan ringannya, tapi ikhlas dan tawwakalnya.

  • Dan tentang pelajaran yang dapat diambil dari doa Nabi Musa ketika menolong putri nabi Ya’kub. Kisah yang sering saya dengar, namun baru tahu tentang kisah doa ini. Doa indah itu : “Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir. Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rizqi, Pengatur urusan, dan Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan. 3 Pelajaran yang dari doa Musa yang disebutkan Salim dalam buku ini :
  1. Hanya Allah yang layak disimpuhi kedermawanan-Nya, ditadah karunia-Nya, dan diharapi balasan-Nya.
  2. Adab Musa ketika berdoa. Bertata krama pada Allah dalam berdoa. Sebagaimana Musa merundukkan diri dan berlirih hati, “Duhai Rabbi; Penciptaku, Penguasaku, …”.
  3. Bahwa Allah dengan ilmu-Nya yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang paling baik bagi diri ini daripada pribadi ini sendiri. Musa menunjukkan bahwa berdoa bukanlah memberitahu Allah apa hajat-hajat kita, sebab Dia Maha Tahu. Berdoa adalah bincang mesra dengan Rabb yang Maha Kuasa, agar Dia Ridhai semua yang Dia limpahkan, Dia ambil, ataupun yang Dia simpan untuk kita.

Beneraaan, saya jatuh cinta sama buku ini. Doa teriring sebagaimana yang tertulis di paragraf terakhir sampul belakang “Biarkan bahagia menjadi makmum bagi islam, iman dan ihsan kita, membuntutinya hingga ke surga”. Islam, Iman dan Ihsan didahulukan, semoga bahagia bermunculan, aamiin yaa Rabbal’alaamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s