Teungteuingeun

Tahun sudah berganti, sebelum bulan ini berganti juga, saya harus meninggalkan jejak. Topik yang biasa muncul di awal tahun itu, kalau bukan tentang evaluasi tahun kemarin biasanya sih tentang harapan dan target yang akan dicapai di tahun ini. Tapi itu terlalu mainstream kan? mari coba membahas yang lain. Karena hari ini hari rabu dan temanya adalah tahun yang telah berganti, hmm..saya akan menulis tentang bahasa sunda. Korelasi yang dipaksakan akibat otak yang terlalu acak, terserah. Tiba-tiba yang ada di pikiran cuma itu.

Ada yang bilang, ketika sudah 5 tahun tinggal di Bandung tapi belum bisa nyunda itu TEUNGTEUINGEUN. “Hah, apa barusan?” itu reaksi pertama ketika saya mendengar kata teungteuingeun. Lucu kan ya? tapi asa riweuh ngucapinnya. Kata dasarnya teuing. Katanya sih artinya T E R L A L U.

Teungteuingeun, itu salah salah respon ketika mendapati saya belum bisa ngomong sunda. Respon lain misalnya, “Ta pi teh, te teh kan su dah li ma ta hun di ban dung??!!” diucapkan dengan penekanan disetiap suku kata, mata terbuka lebar, ekspresi wajah perpanduan antara tertawa, bingung, dan heran. Respon yang barusan itu saya dapat ahad kemarin.

Iya, saya sudah tinggal di Bandung selama 5 tahun, dan belum bisa aktif berbahasa sunda. Masalah buat eloh? Eh bukan, itu masalah buat guweh. :p

dari google image
dari google image

Ayeuna mah hari rebo nya? saban rebo wajib nyarios sunda ceunah. Eng ing eng, moal ah, teu acan tiasa, pabaliyeut. Hahaha..emboh wes, ngawur tok.

Sebenarnya saya suka bahasa sunda, asyik. Kalau ada orang ngomong sunda, saya bisa paham sedikit, sisanya nebak nebak dan merangkai sendiri dari yang diketahui tadi. Kalau ngomong sunda, yang penting sudah bisa ngomong punten. Pedenya cuma ngomong itu. Tapi akhir-akhir ini saya suka banget pakai kata asa dan bisi. Nekat aja walaupun mungkin tidak pas dengan kalimatnya. Terserah deh, pokoknya saya suka.

Bahasa sunda itu bukan bahasa jawa yang tinggal diganti ‘o’ jadi ‘a’. Bukan sesimpel monggo jadi mangga, opo jadi apa. Dulu awal-awal di bandung, saya mengira ieu itu artinya iya. Ternyata bahasa sundanya ‘iya’ itu muhun. ieu itu ini, turunannya akan jadi ka dieu, di dieu. Iraha, euweuh, seep, lucu kan ya? asyik 🙂

Sampai sekarang, ketika mendengar bumi imajinasi saya selalu lebay. Seringnya itu kejadiannya seperti ini, di angkot ketika ada orang menerima telepon kemudian bilang “Abdi tos ti jalan nuju bumi, diantosan nya“. Saya selalu ketawa sendiri karena membayangkan angkot yang kami tumpangi adalah pesawat luar angkasa yang akan mendarat di bumi. Sok dicobian, bumi teh artinya naon?

Dalam belajar bahasa, selain niat yang harus kuat, lingkungan adalah hal yang sangat berpengaruh. Alasan kondisi lingkungan yang bukan sunda banget itulah penyebab yang memberikan andil paling besar atas ketidakmampuan saya dalam berbahasa sunda aktif. Ada teman kuliah saya yang baru beberapa bulan di tanah sunda, tapi sudah jago nyundanya. Ya pengaruh lingkungan itu tadi. Padahal dia dari lahir sampai kuliah, hidup di surabaya, native suroboyo banget. Tapi karena di lingkungan kos dan kantornya kebanyakan menggunakan bahasa sunda, dia cepat sekali bisa ngomong sunda. wedyaaan.

Ada yang pernah bertanya ke saya, apa efeknya ketika tinggal di bandung tetapi tidak bisa ngomong sunda? Hmm..kalau pengalaman saya sih, sebenarnya aman-aman saja. Tapi tentunya ada kerugian-kerugian yang saya alami :

  • Apabila ngobrol dengan yang native sunda, tidak semua perkataan bisa saya telaah dengan baik. Senjata utama adalah mendengarkan dengan baik, pasang wajah antusias, plus senyum. Ini yang biasa saya lakukan ketika ngobrol dengan ibu kos.
  • Ketika di kajian, sang ustadz/ustadzah menggunakan bahasa hasil “blenderan” indonesia dan sunda. Krik krik, jadinya tidak bisa menelaah semuanya, kalau kondisi ini bisa diatasi dengan nanya orang sebelah.
  • Ketika di jalan tiba-tiba ada yang nanya jalan. Entah kenapa saya sering banget ditanya orang tentang jalan ketika sedang jalan atau di angkot. Biasanya saya mengulang pertanyaannya dalam bahasa indonesia, untuk memastikan apakah pertanyaannya benar yang itu.
  • Ketika belanja di pasar kurang lihai menawar. Atau kurang paham ketika si penjual memberikan alternatif barang lain.

Kerugian-kerugian yang saya alami itu karena jangkauan saya di bandung memang masih terbatas. Mungkin akan berbeda dengan orang lain yang benar-benar hidup bermasyarakat secara luas. Tapi tentunya ketika seseorang punya interaksi yang luas dengan orang-orang yang biasa memakai bahasa sunda, kemungkinan akan cepat bisa berbahasa sunda aktif.🙂

4 thoughts on “Teungteuingeun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s