Titik Nadir

When we hit our lowest point, we are open to the greatest change.

– Avatar Aang-

Itu perkataan Aang pada Korra di episode terakhir “The Legend of Korra, book 1″. Sukses bikin saya mewek-mewek ngambil tisu sambil bilang “iya, seharusnya, seharusnya”. Saya sudah antusias nonton ini dari episode 1. Seru dan lucu. Tidak kepikiran bakal mewek di episode terakhir.

Pernah membuat grafik macam ini?

grafik

Grafik dengan sumbu y sebagai index kebahagiaan, dan sumbu x adalah perjalanan umur kita. Tentunya sudah ribuan kejadian kita alami. Beberapa di antaranya di sumbu y negatif, dan banyak lainnya di sumbu y positif. Dan sudah seberapa banyak kita bersyukur?

Secara lumrah, suatu kejadian di titik x menghasilkan nilai y. Nilainya bakal positif atau negatif tergantung fungsi dalam diri kita. Tergantung bagaimana kondisi otak dan hati kita, yang lebih penting lagi, bagaimana kita mengatur otak dan hati kita dalam merespon setiap kejadian.

Pada dasarnya, setiap kejadian adalah independent. Mau dibawa ke sumbu y negatif atau sumbu y positif, tergantung kita. Seberapa besar nilai y, kita sendiri yang tentukan. Belum tentu yang menurut kita tidak baik, sepenuhnya tidak baik bagi kita. Bahkan seperti kata Aang di awal tulisan ini, ketika kita sudah mencapai titik terendah, sesungguhnya ada peluang untuk perubahan yang besar.

“….Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 216

Bersabarlah ketika mendapat musibah dan bersyukurlah ketika menerima nikmat. Mungkin kalimat tadi terdengar sangat klise, tapi memangnya ada rumus lain selain syukur dan sabar?🙂

Terus, kenapa judulnya titik nadir? semacam reaksi fusi antara membaca tulisan bepe di sini dan nonton Avatar Korra episode 12 ini. :p

2 thoughts on “Titik Nadir

  1. Jadi inget pesen bapakku, ketika kita sudah memulai aktivitas dengan bismillah dan diakhiri dengan mengucap alhamdulillah, maka saat mengucap alhamdulillah itu ada ‘kewajiban’ Alloh menambah nikmat pada diri kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s