Posted in cerita

Yang Terabaikan

Seperti biasa, hari itu sekitar jam9 saya baru ada di kantor. “Cap jempol” dulu, mampir pantri mengambil gelas, dan baru ke meja saya di lantai 4. Belum juga menyalakan PC, ada yang bertanya:

toleransi dari sini ke sini ketika load modulation berapa mbak?” sambil menunjuk monitor oscilloscope.

Saya menjawab: “pernah baca dimana gitu, 12%, eh bentar, dicari dulu”.

Excited. Tumben sudah rame dan “panas”, biasanya menu pagi-pagi adalah obrolan sepakbola. Setelah lihat beberapa dokumen, saya bilang :

“nemunya dia bilang setidaknya amplitudonya lebih besar dari tiga puluh per H pangkat satu koma dua, karena pengetesan bla bla bla”

Continue reading “Yang Terabaikan”

Advertisements
Posted in riris banget

Yang Gratisan

Kata banyak orang, rasa makanan yang paling enak adalah rasa(h) mbayar. Alias gratis, ditraktir, dibayarin. Postingan kali  ini foto-foto makanan gratisan. Ketika makan rame-rame, salah satu ada yang nyeletuk “kok tumben ya, makanan ini enak banget”. Yang lain menimpali, “haha ya mungkin karena ini gratis”. Pernah mengalami yang seperti itu?

Continue reading “Yang Gratisan”

Posted in cerita

Pagi ini

Pagi adalah awal hari. Sangat tidak enak ketika pagi-pagi sudah bete. Dari setelah subuh, koneksi internet hp gak bisa. Modem pun yang awalnya bisa jadi gak bisa juga. Padahal ada file yang harus diambil di email. 3 kartu sudah bolak-balik keluar masuk di satu modem dan 2 hp. Tidaak bisa juga. Nangkring depan kamar nyari wifi hanya dapat beberapa menit. Woossaahhh.. entah kenapa pagi ini begitu bete, padahal tidak sedang dalam rentang siklus hormonal. Dan hanya karena hal sepele juga.

Continue reading “Pagi ini”

Posted in cerita

Titik Nadir

When we hit our lowest point, we are open to the greatest change.

– Avatar Aang-

Itu perkataan Aang pada Korra di episode terakhir “The Legend of Korra, book 1″. Sukses bikin saya mewek-mewek ngambil tisu sambil bilang “iya, seharusnya, seharusnya”. Saya sudah antusias nonton ini dari episode 1. Seru dan lucu. Tidak kepikiran bakal mewek di episode terakhir.

Continue reading “Titik Nadir”

Posted in riris banget

Manusia Terserah

Ketika kondisi seperti apa kamu mengucapkan kata “terserah”? 

Itu pertanyaan yang saya lontarkan ke sahabat-sahabat saya beberapa hari yang lalu. Karena saya sedikit tertohok dengan salah seorang narasumber di suatu tayangan tv yang bilang “saya paling tidak suka ketika orang bilang terserah“. Walaupun dalam pikiran saya muncul banyak pembelaan, tapi memang sebaiknya saya mengurangi penggunaan kata ini.

Ini jawaban beberapa sahabat saya. Sahabat pertama bilang,

“sebenarnya aku sangat menghindari kata “terserah”, apalagi ketika aku yang mengusulkan duluan. Tapi kalau memang orang lain yang punya ide duluan, ya biasanya aku bilang terserah. Misalnya ada teman yang ngajak makan, karena dia yang ngajak, aku tanyain pengennya makan apa, aku sih ngikut, terserah”.

Continue reading “Manusia Terserah”