Gradasi Cita-Cita

Tadi malam saya chitchat dengan Rena, sahabat yg sudah seperti saudara. Kami membahas anak, pastinya anak Rena, ponakan saya. Sampai ketika Rena menyampaikan harapannya ketika Nadia yang cantik ini sudah dewasa nantinya. Dari obrolan itu, saya jadi ingat cita-cita saya dari kecil, cita-cita yang mengalami gradasi.

Selama SD, cita-cita saya sudah berubah ubah. Profesi yang kebanyakan saya lihat, kadang guru, dokter, atau bahkan polwan.🙂

Ketika SMP kelas 1 sampai kelas 2, cita-cita saya mulai konsisten. Akan kuliah di kedokteran dan tentunya menjadi dokter. Ketika kelas 3, saya sudah mulai ragu, mulai merasakan kalau pelajaran biologi adalah pelajaran yang ribet, banyak hafalan dan harus banyak belajar.

dari clipartof.com

Ketika SMA, cita-cita dokter itu sudah benar-benar luntur. Pernah saya kepikiran menjadi engineer di ferrari, lebay sih. Di SMA kelas 1, saya suka banget dengan materi tentang gerak, gesekan, gaya, energi, dll di pelajaran fisika. Terlebih saat itu masa dimana saya suka banget nonton balapan F1.

Dimana akhirnya saya kuliah? Saya kuliah di Teknik Elektro, setelah kepala sekolah menyarankan saya kuliah di kedokteran, pak Harno guru fisika menyarankan kuliah ilmu komputer di UGM, dan bu Enni guru fisika menyarankan saya kuliah di teknik mesin Unibraw.

Dan apakah saya akhirnya jadi dokter? Saat ini saya belum jadi dokter, saya malah jadi “Model”. Modeling engineer.🙂

Membahas cita-cita, saya teringat dengan uraian Ippho di bab 2 bukunya “7 Keajaiban Rezeki”. Agar cita-cita atau mimpi itu menjadi nyata, seharusnyalah diawali dengan menyelaraskan cita-cita kita dengan orang tua dan (kalau sudah punya) pasangan kita. Ippho menyebutnya dengan sepasang bidadari. Dengan menyelaraskan keinginan atau tujuan hidup, kita akan mendapat dukungan dan tentunya doa dari mereka. Cita-cita yang semoga terwujud dengan banyak doa mereka.

Sampai saat ini, saya belum bertanya kepada orang tua saya, sebenarnya mereka menginginkan saya mempunyai profesi apa. Mereka selalu mendukung apa yang saya lakukan, sebatas itu wajar dan tidak melanggar aturan agama. Belum pernah ada penyelarasan seperti yang dimaksud Ippho, mungkin itu yang membuat saya sampai saat ini belum menjadi dokter. Lhahh??🙂

22 thoughts on “Gradasi Cita-Cita

  1. saya pengen jadi guru, kuliah elektro, tapi kerjaan sekarang malah project control😀
    meleset agak jauh🙂
    yah, minimal guru buat bidadari kecil saya nanti🙂

  2. hemm sewakti kecil. aku juga bercita-cita jadi dokter, cuma akhirnya sekarang jadi ‘model’. Citakupun juga terdegradasi.

    cita-cita profesi memang seringkali berubah-ubah.

  3. biasa itu Teh, aku juga kek gitu kayaknya. Dulu pas SD cita cita jadi guru, tapi seiring waktu keinginan itu berubah, dan saat stm asal bicara ingin bekerja di bagian maintenance, dan begitulah akhirnya, bekerja di bidang maintenance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s