Kalem

Siang di suatu weekend, si teteh bertanya : “Ada yang hafal hadist ke-12 dari hadist arba’in?“. Nah loh, kena nih, hmm..yang ada di kepala hanya 1, 2, 3, 4, 5, 10 dan itupun bukan hafal redaksionalnya, hanya ingat isinya tentang apa. Kemudian si teteh melanjutkan : “Hadist ke-12 itu tentang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”. Hadist lengkapnya:Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . Kemudian bergumam, “oh yang itu”.

Nah loh, makin kena nih, sudah berapa banyak waktu yang saya pakai untuk hal-hal yang sebenarnya bukan bekal untuk menghadapNya? banyak banyak dan banyak.

Suatu sore beberapa hari setelah weekend itu, energinya masih terasa. Energi untuk meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat. Sore itu saya ngobrol dengan keluarga imajiner. Energi itu membuat saya lebih kalem, berbicara seperlunya, menanggapi obrolan dengan sebaik-baiknya. Sampai mamah heran.

Lama-lama saya akhirnya mengikuti alur juga, walau masih berusaha kalem. Pembicaraan dari mulai hujan sampai imajinasi masa depan. Seperti biasa saya tidak bermaksud melucu, hanya mengeluarkan apa yang ada di otak. Herannya mereka sering tertawa menanggapi obrolan saya.

Bahkan biasanya beberapa teman melapor ke saya kalau sedang mengantuk, berharap obrolan ringan. Merindukan celetukan celetukan ajaib yang mengundang tawa. Apakah saya orang yang asyik? Entahlah. Akhir-akhir ini saya malah khawatir. Ketika saya kalem di depan sahabat saya, mereka malah tidak mengenali saya. Jadi selama 8 tahun ini, seperti itulah saya.

Jadi apakah saya orang yang asyik? Selama ini saya tidak pernah berusaha menjadi orang asyik, tapi ini soal kenyamanan. Kalau diam itu lebih nyaman, saya akan diam. Becanda itu memang diperlukan, sebatas wajar dan masih menyenangkan.

Tidak ada yang kebetulan kenapa si teteh membicarakan hadist itu. Peringatan khususnya bagi saya untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya dan mengurangi hal-hal yang tidak bermanfaat seperti becanda yang berlebihan. Nah ini yang agak sulit.🙂 Tapi saya akan berusaha. Setidaknya ketika membaca cerita ini, saya kan ingat kalau harus mengeremnya.

Etaapii..kalau anda selalu melihat sisi kalem saya, itu juga benar adanya. Karena ada teman yang bilang, saya adalah seorang plegmatis melankolis yang bisa menjadi sangat sanguinis. :p

5 thoughts on “Kalem

  1. uhukss… saya jadi kena juga nih. Suka kebablasan kalau bercanda. Waaaahhh jadi bermunculan begitu banyak aktifitasku yang sebenarnya tidak berguna. Nonton dorama, nonton anime, wew… itu susah sekali ditinggalkan.

  2. Seseorang itu berasa bangga dengan murid dan pengikut yang ramai. Demikian juga seperti seseorang yang sering menyebut nama ulama’ itu dan ulama’ ini bagi menunjukkan dirinya seorang yang banyak bertemu dengan syeikh dan ulama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s