Kembali ke Udik

Mudik, kembali ke udik. Kata teman-teman saya, udik itu kampung. Jadi ketika pulang menjelang lebaran dari bandung ke surabaya, itu bukan mudik. Itu Pulkot, pulang ke kota. Karena teman-teman saya mengklaim, surabaya lebih metropolis dibanding bandung. Terserah deh, toh saya tetap mudik. Entah kapan ponorogo akan lebih metropolis dibanding bandung.

Tentang mudik/pulkot ini ramai kami perbincangkan di kereta, setahun yang lalu. Kami berdelapan e44 bandung benar-benar mudik bareng, mudik dalam satu gerbong kereta dengan bangku yang berdekatan. Setelah tahun sebelumnya kami juga mudik bareng, bareng kereta masing-masing.
Eh, bukan hanya e44, ada 2 anak e46 yang ternyata duduknya persis di samping bangku kami. Alhamdulillah rejeki, 2 adek kelas itu membawa banyak sekali cemilan. Ini nih foto setahun yang lalu. Foto memakai laptop pungky.

Itu mudik paling asyik setelah acara mudik lebaran tahun 2004. Tahun 2004, tahun pertama kuliah. Jadwal perkuliahan 2 minggu sebelum mudik adalah UTS (Ujian Tengah Semester), ujian pertama saya di teknik elektro. Entah di sengaja atau tidak, angkatan saya mendapat jadwal UTS yang “so sweet banget”, kami masih ada jadwal UTS hari jumat. Dan kalau tidak salah ingat, minggu/senin sudah lebaran. Beberapa hari sebelum hari jumat, kampus sudah sepi, penjual makanan juga makin sedikit. Jalan ke keputih (belakang kampus) ketemunya itu lagi itu lagi, teman-teman saya. Sudah menjadi penghuni terakhir. Namun semuanya indah di akhir, saya ikut mudik bareng yang diadakan BEM kampus. Berangkat dari kampus sekitar jm13, dengan bus patas AC dengan dikawal polisi dari ITS sampai daerah waru (lingkar luar surabaya) agar tidak terjebak macet. Tentunya hanya membayar kurang separuh harga dibanding saya harus naik bus ke terminal bungurasih. Apalagi kalau membayangkan siang-siang, puasa, naik angkot dari kampus ke terminal bratang, kemudian baik bus kota ke terminal bungurasih, trus nyari bus surabaya-ponorogo, ikut mudik bareng dengan segala fasilitasnya adalah luar biasa. Alhamdulillah.

Trus apa istimewanya mudik saya kali ini? Saya mudik 2 hari lebih cepat dibanding teman-teman saya. Awalnya lebih karena harga tiket kereta, yang kedua karena load kerjaan memang sedang tidak banyak, yang ketiga karena “kuping panas”. Temen-temen saya yang notabene pulkot itu, kali ini mendapat tiket pesawat bandung-surabaya yang 150rb lebih murah daripada tiket kereta saya. Selain sepakbola, soal tiket ini mungkin yang bisa mereka gunakan untuk “menghina-hina” saya.

Ehh…Mboh wesss, toh 2hari di rumah itu lebih mahal dibanding 150rb, setuju gak? mereka pulang tanggal 16. Setiap mudik memang istimewa, masing-masing punya kisahnya. Alhamdulillah hari ini saya mudik. Bahagia sekali rasanya, walaupun ada sms dari adek saya, dia baru bisa pulang saat takbiran. Tidak mengurangi rasa. Ah, sudah biasa, tahun kemarin juga sama.

9 thoughts on “Kembali ke Udik

  1. selamat menikmati suasana desa, di sana kau dilahirkan, di sana kau dibesarkan, dan kini kau bernostalgia dan akan menyadari bahwa di sanalah rumahmu yang sebenarnya…

    *edisi galau krn tahun ini ndak mudik ke ponorogo*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s