Sajadah Single

Tadi malem ketika tarawih di masjid, cuma sajadah saya yang terlihat single. Terlihat jelas karena jamaah wanitanya hanya satu shaf berjumlah sekitar 10 orang. Sajadah single adalah sajadah yang “ngepas” untuk satu orang, tidak kecil tapi memang ukurannya untuk satu orang. Entah bagaimana orang menamai sajadah model ini, barusan saja terlintas menyebutnya sajadah single. Saya punya 2 sajadah dan dua-duanya single, salah satunya yang ini, barusan saya foto setelah sholat ashar, sajadah yang saya duduki saat menulis ini. Sajadah dari jaman kuliah dulu.

Lagi nyari hadist tentang merapatkan shaf di ensiklopedia muslim

Entah perkembangan mode atau apa, makin banyak sajadah yang ukurannya lebar. Bahkan sebenarnya bisa muat untuk dua orang. Setiap orang bebas memilih motif ketika membeli sajadah, karena  sekarang ini kita sangat dimanjakan oleh banyak sekali motif sajadah yang bagus-bagus. Sebenarnya sajadah lebar itu tidak menjadi masalah ketika masing-masing kita sadar bahwa sholat berjamaah itu harus merapatkan shaf, bukan menjaga keseimbangan kanan kiri dengan berdiri tepat di tengah sajadah. Yang saya alami selama ramadhan ini, masing-masing orang sudah merapatkan sajadahnya, tapi karena sajadahnya lebar ya begitulah, masih ada jeda. Ada rasa sungkan untuk meminta menggeser dan merapatkan dari ujung-ujung, apalagi seperti yang saya alami selama ramadhan ini. Komposisi jamaah wanitanya adalah para oang tua yang obrolannya kapan umroh lagi. Mungkin karena lingkungan tempat saya kos, kebanyakan dihuni oleh orang-orang yang sudah sepuh sedangkan anak-anak mereka sudah punya rumah sendiri-sendiri, seperti halnya ibu kos saya, seorang kakek-nenek dengan 9 cucu sudah haji 1 kali dan 2 kali umroh, keempat anaknya tinggal di rumahnya masing-masing. Hmm.. jadi merasa tidak ada apa-apanya saya dibanding mereka.

Tentang sajadah single ini, keluarga saya juga punya pengalaman sendiri. Tahun pertama adek saya masuk ke pesantren, ketika masuk tahun ajaran baru 11 syawal, semua perlengkapan yang akan digunakan di pesantren selalu diperiksa. Jenis kaos yang diperbolehkan dipakai, corak kemeja, perlengkapan sholat, dll. Nah, adek saya saat itu dibekali sajadah lebar hadiah dari saudara. Kena deh, di pesantren itu ternyata dilarang membawa sajadah lebar untuk ke masjid. Sajadahnya harus single yang ngepas untuk satu orang. Dari kejadian itu, keluarga saya selalu menggunakan sajadah single ketika ke masjid. Punya 2 sajadah lebar di rumah tapi dipakai ketika sholat sendiri.

Merapatkan shaf ini mungkin selesai ketika kita sudah merapatkan sajadah kita dengan sajadah orang di kanan-kiri kita. Tetapi ada beberapa hadist yang menjelaskan tentang pentingnya merapatkan shaf dalam sholat, bukan merapatkan sajadah. Di antaranya :

Jika Rasulullah keluar mengimami kaum muslimin, beliau menghadap ke arah mereka dan bersabda : ” Rapatkan kalian dan luruslah“.

Anas bin Malik menerangkan cara meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Rasul, ia berkata, “Pada waktu itu masing-masing di antara kami merekatkan bahunya dengan bahu saudaranya, dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya.” (Riwayat Al-Bukhari).

(IMHO) Kalau memang ke masjid membawa sajadah, membawa sajadah single merupakan salah satu langkah awal merapatkan shaf. Selamat meningkatkan ibadah di bulan ramadhan yang tinggal setengah ini.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s