30 Juli

Dari kecil dia sakit-sakitan. Yang sering dan lumayan parah adalah sakit asma. Mereka sekeluarga begadang kalau asmanya sedang kambuh, menunggui dan terpaksa harus melihat bagaimana susahnya dia bernafas. Ketika Sekolah Dasar, tak jarang dia diantar penjaga sekolah untuk pulang lebih awal karena mimisan, demam, dan kondisi tidak mengenakkan lainnya.

Tapi jangan salah, dengan segala keterbatasannya itu, dia anak yang keras kepala. Mungkin demi membahagiakan anaknya yang sakit-sakitan itu, orang tuanya berusaha menyanggupi apapun yang diminta anaknya itu, walau memang sebatas kemampuan mereka.

Karena merasa diistimewakan seperti itu, dari kecil sampai SD dia tumbuh menjadi anak yang boleh dibilang manja. Masih sering disuapin, semua keperluannya ada yang menyiapkan, main dengan teman-temannya sesukanya walaupun ujung-ujungnya sakit. Tapi memang pada dasarnya dia tidak bisa diam, dia minta dibuatkan kolam kecil depan rumah untuk memelihara ikan, minta dibuatkan kandang kecil untuk memelihara burung dara, di belakang rumah dia pernah membuat batubata kecil-kecil dibakar sendiri entah ujung-ujungnya buat apa.

Sampai ketika kelas 6 SD, bersama TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) tempat mengajinya, dia mengikuti lomba kaligrafi sekabupaten yang diselenggarakan salah satu pesantren, dan Alhamdulillah dia juara 2. Sejak saat itu, dia bertekad ingin melanjutkan sekolahnya ke pesantren itu. Orang tuanya pun resah, sekolah di sekolah umum dengan jadwal yang biasa saja, dia sering sekali pulang awal karena sakit, apalagi sekolah di pesantren dengan jadwal dan kegiatan yang padat.

Tapi dia memang keras kepala, dengan bismillah, orang tuanya mengizinkan dia melanjutkan sekolah ke pesantren itu. Tak terbayang bagaimana dia menjalani hari-hari dia di pesantren itu, seorang anak manja yang masih sering disuapi kalau makan, belum pernah mencuci bajunya sendiri, tidak bisa menelan obat (harus dihancurkan dulu, dicampur air, baru diminum), tidak pernah belajar, dan entahlah bagaimana dia bisa bertahan. Ketika kelas 1, setiap jum’at ibunya menjenguk membawakan obat-obat yang harus dia minum, obat-obat itu sudah dihaluskan dimasukkan ke plastik-plastik kecil.

Dia tidak pernah mengeluh, bagaimana sulitnya dia hidup di pesantren itu. Tidak pernah bercerita, mungkin sudah terpatri jelas didikan bapaknya tentang bagaimana bertanggung jawab atas pilihan. Kalau ditanya jawabnya selalu : biasa. Entahlah.

Hanya kejadian-kejadian besar yang diketahui orang tuanya, ketika dia menjadi salah satu semacam pengurus osis bagian keamanan, semacam polisinya pesantren, dan ketika dia harus masuk rumah sakit pesantren selama 2 minggu karena sakit tipes dan itupun ketika ujian kenaikan kelas. Yang lainnya mungkin dianggapnya “biasa” hingga keluarganya tidak perlu tahu.

Subhanallah, ketika masuk ke pesantren itu saat tahun 2003, saat ini sudah 2012. Dia masih bertahan di sana, kuliah semester 6 di fakultas ushuluddin, mengajar di pondok cabangnya, menjadi anggota tim yang bertugas mengurusi bagian pengajaran. Asmanya alhamdulillah sudah lama hilang, flu setiap pagi mungkin sudah dianggapnya biasa. Banyak sekali yang berubah dari dirinya, pasti banyak sekali pelajaran hidup yang telah dia terima.

Yupp..dia adik laki-laki saya, sahabat saya, kadang jadi kakak saya. Ini hanya sekelumit perjalanan hidupnya, saya pernah menuliskan sedikit tentangnya di sini. Melihatnya seperti itu, beberapa waktu lalu saya pernah berfikir : hidup adalah pilihan, kalau kita sudah tidak kuasa memilih, apa masih dikatakan itu sebuah hidup?. Ini tentang dia, banyak kepentingan pribadinya yang menurut saya sudah terenggut oleh semua kewajiban dia di pesantren itu. Entahlah, mungkin bentuk kekecewaan saya karena dia sering menomor-duakan keluarga, eh lebih tepatnya saya. Tapi ternyata saya salah, dia sudah memilih, dia memilih tetap bertahan di situ dengan segala konsekuensinya. Tempat dimana dia merasa sangat nyaman sekarang. Dan orang tua saya pun sudah ridlo dengan pilihannya itu.

30 Juli, hari ini hari lahirnya. Barakallah adikku toyong, semoga keberkahan selalu terlimpah untukmu, semoga sehat selalu.

11 thoughts on “30 Juli

  1. HIdup itu memang pilihan. Mau jadi seperti apa kita itu kita yang menentukan dan atas izin kehendak-Nya. Tentu saja diiringi dengan konsekuensinya.
    Kalau bagi saya, keluarga tetap no 1 ris. Walau sesibuk apapun saya, pasti keluarga itu saya prioritaskan. Sudah kewajiban kita untuk membahagiakan keluarga. Tapi kalau mengingat banyak nya tanggung jawab yg harus dia emban, mungkin kita harus lebih banyak menerima kondisinya.

    Semoga adik riris, senantiasa istiqomah di jalan Nya dan bisa mencapai tujuannya.

      1. Amin, makasih put. Alhamdulillah orang tua saya ridlo dengan prioritas yang dibuat adek saya, karena yang dia lakukan insya Allah untuk agamanya.🙂

  2. Aku pernah merasakan hal sama. Anak terakhir yang sangat manja, dan entah mengapa ingin sekali mondok dari kelas 4 SD. Alhamdulillah akhirnya cita-cita itu tercapai. Meski sering diremehkan orang, tapi banyak ilmu yang aku dapatkan di sana. Yang paling utama adalah Mental, Tanggung jawab dan juga menjadi orang yang tepat waktu. Pernah awal kuliah aku dengan lugas keluar dari organisasi kampus karena rapat molor 2 jam.
    Selamat ulang tahun untuk adeknya mbak riris. Jadilah orang yang berguna bagi lingkungan ketika engkau keluar dari PMDG🙂

  3. wah persaudaraan yang indah. Setiap saudara pasti secara fitrah saling menyayangi. Klo kamu rajin nulis tentang adekmu ya ris. Tapi aku sendiri kok jarang nyeritain kakak perempuanku yah ha ha..

    oh iya, link sahabatnya diganti ke inspirasicoffee.com ya ris. Dah beli domain nih🙂

    – coffee break pindah jadi inpirasicoffee –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s