Bukan Soal Mampu, Tapi Mau

Bukan soal tidak mampu, tapi tidak mau. Lhah, malah main negasi begini. Ok, sebelumnya saya akan cerita dulu. Saya termasuk orang yang sangat suka tidur cepat, mungkin 97% dari setiap malam yang telah terlewat dalam hidup, jam23 biasanya sedang tidur, mulai tidurnya sih di kisaran jam21-22, lebih tepatnya mungkin bisa dilihat di catatan malaikat. Karena EURO, jam23 saya bisa tidak tidur bahkan sampai jam7 pagi. Dan itu bukan hanya sehari dua hari, tapi lebih dari seminggu. Walaupun setelah itu tepar, karena siklus biologis yang berubah cepat. Awalnya memang berbekal alarm dan tidur yang lebih cepat sekitar jam20. Seminggu kemudian sudah jadi habit. Bahkan ketika tidak ada jadwal sepakbola, jam23 saya bisa melek nonton serial House atau baca buku. Sangat amazing untuk ukuran tukang tidur seperti saya.

Seperti halnya update blog, setelah posting ini, kemungkinan saya akan mengupdate setidaknya 2 hari sekali. Ternyata yang terjadi berbeda bukan? Bukan soal tidak mampu, tapi tidak mau, malaslah yang dikedepankan.

Lagi lagi bukan soal mampu, tapi mau. Kalau kita mau, mampu pun kemudian akan mengikuti. Nonton bola adalah hal sepele dalam hidup. Hanya sebuah kesenangan, bukan untuk bekal di hari kemudian. Untuk hal yang segitu saja, mau bisa berubah jadi mampu. Seharusnya untuk hal yang lebih penting, untuk tekad yang besar, untuk masa depan yang lebih baik, untuk impian yang ingin dicapai, untuk akhir yang indah, hal itu sangat-sangat mungkin mudah terjadi.

Ramadhan sudah di depan mata, semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertemu dengannya. Sekitar kurang 23 hari lagi, masih banyak waktu untuk mengubah mau menjadi mampu. Mari mempersiapkan dengan baik. Dengan menulis ini, akan mengingatkan saya, apabila hanya untuk sebuah kesenangan menonton bola saja saya mampu segitunya, tentu saya harus lebih mampu melakukan yang terbaik untuk bekal di akhirat nantinya. Dan semuanya dimulai dari mau, dan semoga kemudian mampu.

Kemauan adalah pembeda antara orang yang hanya memiliki pikiran dengan orang yang jujur ingin merealisasikan dan mewujudkan impian itu. Dalam alquran terdapat kata ‘adziman sebagai kata kemauan. ‘Adziman/’Iradah/kemauan adalah jembatan kesadaran dengan realita kehidupan kita. Sebenarnya, orang yang paling kuat mempengaruhi kita adalah yang paling kuat kemauannya. -Anis Matta-

15 thoughts on “Bukan Soal Mampu, Tapi Mau

  1. hik hik… kalimat anis matta di penutup itu aku paling suka. Kalau tidak salah itu sudah 2 kali saya publish di FB.

    Memang benar, kemauan itu adalah pembeda antara pemimpi/pengkhayal dengan pelaku/pemain.

    yah semoga ini juga menyadarkan diri sendiri untuk lebih bisa membedakan skala prioritas, mana yang hanya kesenangan dan mana yang memang untuk bekal di akherat nanti.

  2. “Untuk hal yang lebih penting, untuk tekad yang besar, untuk masa depan yang lebih baik, untuk impian yang ingin dicapai, untuk akhir yang indah itu” itu semua butuh proses yang panjang. Apa yg kita siapkan sekaranglah & apa yang menempa kita menjadikan kita lebih solid… Semoga endingnya bagus ris. #ngomong apa sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s