UN, Berjuta Rasa

UN SMA sudah selesai ya? Mungkin perasaan kebanyakan siswa yang selesai UN adalah lega, ada pula yang sedikit kecewa karena menyadari ada beberapa jawaban yang salah, banyak ekspresi yang menggambarkan suasana hati. Klo saya dulu, selesai UN SMA, ada banyak jenis “rasa” yang berkecamuk di dada, #eaaa. Ada penyesalan, takut, rasa bersalah, heran, entah berapa lagi jenis “rasa” yang sulit diungkapkan.

…………..

Aku bersekolah di SMA yang lumayan bagus di kota Madiun. Sekolah model baru, sistem yang baru, fasilitas baru (walaupun saat itu masih dalam sekolah yang lama, pindah ke gedung yang baru sekitar tahun 2007). Hal secara fisik (dapat dilihat) yang tergolong masih baru saat itu : aku bersekolah hanya sampai jum’at, tiap kelas tidak lebih dari 30siswa, ada 3 guru semacam guru wali tiap kelas, ada 2 guru di kelas untuk beberapa pelajaran, pelajaran olahraga disesuaikan dengan masing-masing minat siswa (badminton, renang, basket, dll), dst.

Hari itu UN Bahasa Inggris. Pelajaran yang tidak begitu aku kuasai. Bagiku, suka atau tidak suka pada pelajaran ini tergantung pada gurunya. Padahal waktu itu, aku lumayan respek pada guru bahasa inggrisku, tapi entah, masih saja bermasalah dengan pelajaran ini. Ok, aku ceritakan kondisi kelas saat itu.

UN SMA3 Madiun dari hendrijanto dot wordpress dot com

Foto di atas adalah foto UN tahun 2010, aku dapat dari blog salah satu guru SMA ku (mungkin beliau mulai mengajar di SMA ku setelah aku lulus). Saat aku bersekolah di SMA itu, aku belum menempati gedung sekolah baru yang bagus itu. Sekolahku saat itu masih ada di belakang Diknas Madiun. Tapi kelasnya persis seperti itu, meja yang sama, luas kelasnya relatif sama, tapi dulu hanya memakai 2 kipas angin, bukan AC.

UN SMA3 Madiun dari hendrijanto dot wordpress dot com

Mungkin takdir, selama UN, aku dapat kursi paling belakang. Pojok belakang, arah diagonal dengan pintu yang sejajar dengan papan tulis. Kelas yang lumayan luas membuat jarak antar kursi kami begitu lebar. Jaraknya lebih lebar dari yang di foto itu.

UN saat itu, hanya 3 pelajaran yang menjadi penentu kelulusan, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dengan nilai minimal 4.01. Ada nilai 4.00 satu saja dari 3 pelajaran itu, maka siswa dinyatakan tidak lulus.

Walau pelajaran ini tidak terlalu aku kuasai, toh mau tidak mau harus dikerjakan dengan baik. Mengawali dengan bismillah, aku mengerjakan soal UN Bahasa inggris. Soal yang dikerjakan tentunya yang mudah dulu. Sudah di bolak-balik beberapa kali, soal yang bagiku mudah sudah habis. Suasana kelas begitu sunyi. Lihat kanan kiri, hanya bisa senyam senyum sesama teman yang terbentang jarak yang lumayan lebar. #sigh

“Kok sudah mulai menguap-nguap gini ya?” Aku mulai mengantuk. Agar tidak mengantuk, aku selalu sedia permen di kotak pensil atau di saku baju seragam. Masih ingat jelas, waktu itu aku suka sekali permen fox (permen bening rasa buah-buahan). Sudah mengulum permen, tapi rasa kantuk masih tak tertahan. Zzzzz….

Terdengar suara pengawas ujian “Waktu kurang 15 menit lagi, silakan diteliti kembali”. Kaget, langsung lihat lembar jawaban. Nah loh, masih ada beberapa (beberapa itu relatif ya, lebih dekat ke banyak sih) yang kosong. Aku tertidur!!! Entah berapa lama, Aku tidak pernah memakai jam tangan. Panik. Heboh sendiri. Kembali membaca soal yang belum terjawab, menjawab sesuai hati nurani. Lemes.

Jangan tanya kenapa aku begitu rapi tidur tanpa ada yang membangunkan. Aku sudah sering tidur di kelas. Banyak julukan mulai dari putri tidur, ratu tidur, dan dewi tidur. Penyakit yang sampai kuliah masih belum sembuh benar. Dan julukan-julukan itu masih melekat, terutama ketika kelas TPB.

 Oiya, pengen tahu rasanya mengulum permen saat tidur? Lidah jadi terasa sangat tebal dan kaku, aku membayangkan kalau permen fox tadi sudah lebur menyatu dengan lidahku. Tidak enak dan tidak nyaman.

Jangan dikira aku tidak sungguh-sungguh untuk lulus SMA, sebagai anak yang jauh-jauh sekolah dari ponorogo bagian kampung ke madiun, tentunya aku tidak akan mengecewakan orang tuaku. Sebagai siswa yang punya andil satu dari berderetnya trophy di lobi sekolah, beberapa kali keluar masuk kantor Diknas, sangat dikenal kepala sekolah (gimana gak kenal, beliau adalah bapak dari sahabatku), tidak lulus adalah hal yang memalukan bukan? Dan bagaimana dengan tetangga-tetanggaku, mereka pernah melihat aku nongol di tv beberapa bulan sebelumnya, ironis kan kalau akhirnya aku tidak lulus? Tapi itulah yang terjadi, tidur saat UN, sungguh konyol.

Selesai UN, aku menganggung rasa bersalah yang besar, rasa takut tidak lulus, penyelesalan yang dalam, aku hanya bisa pasrah. Seingatku aku bercerita pada beberapa sahabatku, tapi tidak ke orang tuaku. Bukan takut dimarahi, toh orang tuaku belum pernah memarahiku, takut mereka ikut khawatir kalau anaknya mungkin tidak lulus.

…………………..

Ada yang sudah mendengar cerita konyol saya ini? Saya sudah menceritakan ini ke beberapa orang. Alhamdulillah saya lulus SMA dengan nilai bahasa inggris yang memang lebih rendah dari dua pelajaran yang lain. Setelah dapat kabar lulus itu, saya baru cerita ke orang tua tentang kisah itu. Ada satu hal yang sampai saat ini akan terus saya ingat : Jangan tidur sambil mengulum permen! #eh

2 thoughts on “UN, Berjuta Rasa

  1. Walah…parah ujian malah tidur…kkkk. Mungkin permen nya jangan permen fox ris tapi permen cabe biar adrenalinnya terpacu. Dulu waktu ujian 3 matakuliah matematika, bahasa indonesia, dan bahasa inggris yang saya khawatirin bhs inggrisnya. untunya sy masih bisa lulus dengan nilai 5.5. diantara matapelajaran sma, sy yang paling lemah itu bhs inggrisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s