Pilihan dan Kesempatan

@indahbaroroh: Msi seger d memori,dl wktu masi mahasiswa sering ikut aksi demo damai brg @lianesia @yoshinblue @ririsnovie|nah skrg,ga kpikirn sm skali😀

Sekarang ini, aksi mahasiswa sedang menjadi sorotan. Saya tidak akan banyak komentar, karena dari sudut pandang manapun, aksi anarkis tidak dibenarkan. Walaupun memang tidak semua bisa dinilai dari hasil akhir, setiap sesuatu ada banyak faktor yang mempengaruhinya.

Melihat apa yang dilakukan para mahasiswa yang berdemo itu, banyak sekali komentar masyarakat yang muncul. Diantaranya ada yang bilang “urusin kuliahnya, kerjanya kok cuma demo” atau “namanya mahasiswa itu ya kuliah”. Yup, saya juga sepakat kalau kewajiban utama mahasiswa memang untuk belajar dan menyelesaikan kuliah, tapi mahasiswa juga mempunyai peran dan fungsinya.

Begitulah hidup, pastinya memberikan banyak pilihan. Saya jadi ingat sewaktu masih berstatus mahasiswa. Ada kejadian emosional yang sampai sekarang masih jelas di ingatan, sensasinya masih terasa.

Malam itu, setelah sholat isya di mushola elektro, aku berjalan ke arah kantin pusat. Ada rapat dengan teman-teman perwakilan semua jurusan untuk kegiatan besar yang memang melibatkan semua jurusan di kampus. Berjalan melewati plaza teknik elektro, belok ke kanan melewati plaza teknik mesin, belok kiri melewati teater C. Agak gelap, lumayan sepi dan sedikit gerimis. Mungkin karena sudah capek seharian beraktivitas, jadilah kalau pakai bahasa sekarang, aku sedang galau. Sepanjang jalan itu, aku berbicara dalam hati “Hidup kan pilihan, kenapa aku memilih “jalan” yang seberat ini. Teman-teman yang lain mungkin sedang nyaman di kos, mengerjakan tugas. Lhah aku? Kenapa aku mau2nya kayak gini? Ya Allah, semoga ini tidak sia-sia. Sudah tidak ada jalan kembali, semua harus diselesaikan.” Mata sudah panas, air mata hampir jatuh. Bukan kecewa atas pilihan, tapi merasa kenapa seberat ini. Air mata tidak boleh tumpah, aku harus kelihatan kuat. Jalan ini sudah aku pilih, dan setiap pilihan harus dipertanggungjawabkan. Itulah yang diajarkan bapak sejak aku kecil, bertanggung jawab atas sesuatu yang telah dipilih.

Itulah kejadian emosional yang tidak akan terlupa. Dan subhanallah, ketika sekarang saya ditanya kapan moment terbaik dalam hidup? Ternyata jawaban saya adalah 3 tahun terakhir masa kuliah itulah yang saya anggap moment terbaik dalam hidup saya. 24 jamnya berlalu dengan maksimal, menjadi manusia seutuhnya yang hidup bukan untuk dirinya sendiri. Alhamdulillah, berarti pilihan saya waktu itu benar.🙂

Lagi-lagi, ini tentang pilihan dan kesempatan. Sesuatu itu terjadi bukan hanya karena keingian, tapi juga karena ada kesempatan. Dan menurut saya, moment ketika berstatus mahasiswa menyediakan banyak sekali kesempatan, tidak hanya untuk menjadikan diri lebih baik, tetapi juga membuat lingkungan sekitar menjadi baik.

jika aku mau
aku bisa hidup semauku
untuk diri sendiri

melakoni apapun dengan enak hati
mencari kesenangan, kesuksesan
untuk diri sendiri

sayang, aku terlanjur tahu
bahwa hidup bukan sebuah permainan
bukan pula sesederhana yang kita pikirkan

hidup adalah pilihan:
untuk melakoni seadanya
atau bergerak menyebarkan energi
dan menjadi berarti

Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status”

5 thoughts on “Pilihan dan Kesempatan

  1. mantabss… meski aku aktif di organisasi kampus dengan jabatan super ndak penting, dan tak pernah ikut demo. Tapi aku senang sekali melakukannya, memiliki banyak teman.

    Perasaan seperti itu juga aku alami ris. Menjadi anggota sebuah divisi yang terkesan (disampingkan), yakni divisi usaha BEM FTI dan Divisi Enterpreurship BEM ITS. Namun disitu aku belajar kebersamaan. Hiks hiks… makan bersama dan mengelola kegiatan bersama. Yang penting usahain IPK tetap diatas 3.

  2. Wah keren ris, waktu kuliah sangat aktif. tapi memang betul itu, terkadang ketika kita menjalani sesuatu tapi karena saking beratnya. kita berpikir apa gak lebih baik sy seperti yg lain, lebih nyaman enak.
    Tapi mundur sudah gak bisa. Tapi itulah kenangan yg tak terlupakan.

    Itu juga pernah terjadi pada sy waktu dulu sy masih bekerja di vs. Sy sudah mau siap2 mengundurkan diri karena sy sudah menyerah waktu itu. Karena hampir tiap hari kerja sampai jam 2 baru pulang selama 3 bulan.
    Kesimpulannya, Ketika kita ingin melakukan sesuatu yg extraordinary.. just rethingking again. Jangan terlalu naif pada suatu hal. karena kembali pd kita sendiri. kita punya keterbatasan, kita punya hal yg ingin & tidak ingin kita lakukan. Bukan melakukan sesuatu berdasar pengorbanan semata.

    1. Woww…keren put, sampe pulang jam2 gt, selama 3 bulan lagi..

      Iya, setuju dengan kesimpulannya. Dan sesuatu yang layak dikerjakan, memang wajib dikerjakan dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s