Tragedi Wissudah

Bermula dari sms seminggu yang lalu :
Ani : mba qu apa kabar? alhamdulillah sabtu ini ani wisuda🙂
saya : alhamdulillah baik neng, waaahhh…selamat yaaa, pengen datang euy, ngasih bunga🙂
Ani : aiih..ayo datang…kangen mba qu🙂

Yuhuuu…
Ani ini adalah temen kos sewaktu saya kos di daerah taman sari, walaupun udah setahun lebih kami tidak sekos, tapi kami masih berkomunikasi baik, kadang juga ketemuan, makan dan nonton🙂

Bulan ini 3 tahun yang lalu, saya pun wisuda. Wisuda yang mungkin seumur hidup tidak akan pernah terlupa, eh tapi bukan tentang wisudanya, tapi tragedi sesaat sebelum prosesi wisuda. Di kampus ITS, hanya 2 kali wisuda dalam setahun, untuk kelulusan semester genap akan wisuda bulan september/oktober dan untuk kelulusan semester ganjil akan wisuda bulan maret/april.

11 oktober 2008, Perumahan dosen ITS blok I-17, kamar kos lantai 2, Malam hari.
Malam itu, Tantri datang, papah kami, eh, saya belum bercerita tentang keluarga imajiner yah? tentang keluarga imajiner ini akan saya tulis kapan-kapan..woww..berarti bukan papah, tapi tantri, Adiwena Tantri Bandini, teman saya seangkatan yang besoknya wisuda bareng saya. Malam itu tantri menginap di kosku, eh kos kami. Kenapa kami, jadi kos ini terdiri dari 6 kamar, 3 kamar di lantai 1 dan 3 lainnya lantai 2. Tentunya berisi 6 orang, 4 diantaranya mahasiswa teknik elektro 2004 : saya, tatin, amanda, dan mihrani. Tantri menginap di kamar tatin, karena besok pagi2 keluarga saya datang dari ponorogo. Malam itu tantri  dari makan malam bareng keluarganya, kakaknya yang sedang s2 di taiwan rela pulang demi wisuda adek tercintanya, hmm..makin sedih aja, karena adek tercintaku yang sekolah di ponorogo aja gak bisa datang di wisudaku. Malam itu di kamar tatin, kami bertiga masih ngobrol seru, entah waktu itu ngobrol apa, lupa. hahaa

12 oktober 2008, Perumahan dosen ITS blok I-17, kamar kos lantai 2, dini hari.
Sebelum subuh, keluarga saya datang dari ponorogo. Karena mereka beristirahat di kamar saya, saya pun ke kamar sebelah. Kamar tatin. ohooo…entah tadi malam mereka tidur atau tidak, saya mendapati mereka sedang di depan laptop, menyalakan kamera, nyanyi dan berekspresi aneh2, hmm,,mungkin klo video itu di upload ke youtube mereka sudah jadi artis sekarang.. hahaa.. daann… saya ikutan, filenya masih ada loh, tp ada di komputer, di rumah ponorogo. Setelah sms teman-teman, kami memutuskan untuk pergi ke salon untuk berdandan jam5 pagi (pemilik salonnya juga menyarankan hal yang sama), hehe…iya, kami akan berdandan selayaknya perempuan, dan pastinya berkebaya.

12 oktober 2008, Perumahan dosen ITS sekitaran blok I, sekitar jam 5 pagi hari.
Saya dan tantri sudah memasukkan semua kebutuhan untuk wisuda ke mobil (mobil tantri, si kotak sabun penuh kenangan). Rencananya, kami akan langsung ke graha ITS(tempat wisuda) langsung dari salon tempat berdandan.
Kemudian datang bilkis, teman seangkatan yang akan wisuda juga. Kami bertiga kemudian berangkat ke tempat kami akan berdandan. Sampai di tempat, sudah ada beberapa teman kami, indri, adelina, yekti. Kemudian datang aini, yang waktu itu sudah tercatat sebagai RNP engineer di perusahaan vendor telekomunikasi kipas merah dan dita yang juga sudah bekerja di sub-con nya kipas merah di salah satu perusahaan india di jakarta. Oiya, kenapa kami semua, sebagian besar cewek elektro yang wisuda hari itu memilih untuk mematut diri di salon itu? hahaa, jawaban classy, yup, di antara malas mencari dan memang tidak tahu tentang dunia persalonan. hahahaa…

12 oktober 2008, Salon di kawasan Pojok barat daya Perumahan dosen ITS, sekitar jm 6 pagi sampai jam 8 lebih.
Ternyata hari itu di salon itu, jumlah yang akan memberikan “corak” pada kami, tidak sebanding dengan jumlah kami..hahaha bahasanyaaaa…jelasnya, hanya ada 3 orang sedangkan kami berbanyak dengan waktu pengerjaan yang terbatas. Awalnya kami tidak panik, santaaiii. Adelina dan indri selesai, oke, mereka menuju graha. Panik level 0. Tinggal yekti, dita, aini, saya, tantri, bilkis, mimin. Okee…sudah ada bau2 kami akan telat. Laporan dari teman2 yang sudah ada di graha, mereka sudah mulai masuk ke dalam graha. Panik level 1. Yekti dan dita selesai, demi mengurangi angka keterlambatan, mereka berangkat ke graha…hahaha…panik level 2. oke, tinggal saya, tantri, aini, bilkis, mimin. Dengan terus berkomunikasi dengan teman2 yang sudah bertoga di dalam graha. Di Gladi Bersih sehari sebelumnya, diumumkan bahwa, ketika Senat sudah memasuki graha, maka wisudawan yang telat, terpaksa tidak diijinkan masuk mengikuti wisuda, nah loo. Sudah hampir jam8, dan kami pun juga sudah hampir selesai. Laporan terakhir dari dalam graha, Senat sudah masuk ke graha. Panik level 3.

12 oktober 2008, Dalam mobil menuju graha, jam 8 lewat.
Alhamdulillah kami sudah berkebaya dan memakai toga. Kami berlima masuk mobil, tantri yang menyetir, di sebelahnya ada aini, di jok belakang ada saya, bilkis, dan mimin. Untuk sampai di graha, kami bisa lewat 2 jalan, jalan timur lewat PENS dengan resiko pintu gerbang timur ditutup, jalan barat lewat bundaran ITS dengan resiko sedikit memutar di bundaran ITS. OK, setelah kami sedikit rame berdiskusi kami memilih lewat timur. setelah keluar dari jalan T.Sipil (jalan utama perumahan dosen), tantri bilang “sorry yo rek” kemudian wuzzzzz….ngebutttt bangeeet…hahahaa, sepertinya hasil di salon tadi ikut terbang di bawa angin.hahahaa….keren dah tantri. Walaupun hanya kurang lebih 10 menit kami sampai di graha, saya ceritakan kondisi di dalam mobil. Tantri serius dengan setirnya, aini berkomunikasi dengan yekti dan teman2 di graha, saya berkomunikasi dengan fajar yang sudah siap di depan graha untuk membantu memarkirkan mobil (FYI : Fajar adalah teman kami elektro 2004 jg, namun belum wisuda hari itu. Sekarang Fajar dan yekti sedang menunggu kelahiran putri pertama mereka,..soo sweet yeah..), dan yang lebih mengharukan dua orang di sebelah saya, bilkis dan mimin berdoa dengan berucap “ya allah ijinkan kami ikut wisuda di dalam graha” (suara yang dikeraskan dan berkali-kali diucapkan, kami mendengar dan kami terharu..hihihi). Panik level 4. Walaupun kabar baiknya, semua orang tua kami, sudah ada di dalam graha. Mungkin ini tidak akan jadi kabar bahagia lagi, klo ternyata kami, anak-anaknya tidak bisa ikut wisuda di dalam graha. Panik level 5.

12 oktober 2008, Kompleks Graha ITS, jam 8 lewat.
Mobil sudah sampai pintu masuk parkiran graha, daaan mobil kami diberhentikan oleh petugas parkir. fiuhh…petugas parkir mendekat, dan dengan serempak tanpa aba2, kami berlima bicara. Heboh, rame, gak jelas, itu yang mungkin diterima oleh petugas parkir, dengan santai petugas parkir hanya bilang “tenang mbak, saya cuma mo nulis plat nomornya aja kok”. Setelah selesai dengan petugas parkir, tantri mengemudikan mobilnya menuju depan pintu masuk graha. Sudah ada fajar di sana. Mobil berhenti. Kami semua turun, dan berlari menuju pintu masuk (kayaknya saya lupa menutup pintu mobill…maafkan nduukk…). Entah apa yang ada di pikiran banyak orang yang ada di situ. Wisuda memang selalu ramai, karena yang bisa masuk hanya 2 orang dari keluarga wisudawan, pastinya di luar graha banyak sekali orang, keluarga wisudawan, para penjual bunga dadakan, mahasiswa. Dan kami melewati mereka semua dengan setengah berlari (FYI : kami berkebaya, dengan alas kaki yang high heels, dengan memakai toga). Yang pertama kali sampai di depan petugas yang menjaga pintu masuk graha adalah saya. Dengan wajah memelas dan terengah2, saya bertanya “Pak, kami masih boleh masuk?“. Panik level tertinggi. Bapak petugas itu dengan santai malah bertanya balik “ini untuk wisuda pagi apa siang?
Jlebbb…”wisuda pagi pak“, “masuk lewat samping ya“. Hari itu ada 2 sesi wisuda di graha, pagi akan selesai sebelum dhuhur, dan sesi siang yang dimulai setelah dhuhur. Tralala trilili…kami boleh masuukk.

12 oktober 2008, Di dalam Graha ITS, hampir jam9.
Alhamdulillah, kami akhirnya duduk di kursi di dalam graha bersama wisudawan yang lain, teman-teman kami. Firdaus, yang duduknya di sebelah saya bilang “akhirnya datang jugaa”, hahahaa…campur aduk jadi satu. Kami berlima yang telat tadi memang duduk berdekatan, tapi tidak bersebelahan (kursi berdasarkan nomor mahasiswa). Kami saling pandang, geleng-geleng kepala dan sedikit tertawa. Saya baru merasakan “oh ya, saya wisuda” itu ketika nama saya disebut sebelum bersalaman dengan rektor dan menerima ijazah. alhamdulillah, saya benar2 wisudaa..setelah 8 semester yang luar biasa, dan tentunya beberapa jam sebelumnya yang sungguh luar biasa pula.
Kami Wisuda.

Beberapa minggu setelah wisuda, Perumahan dosen ITS blok I-17, kamar paling pojok lantai 2, sore hari.
Setelah siangnya saya dan tantri mengambil video wisuda dari BAAK ITS, sore kami berdua duduk di kursi belajar saya (menurut survey cewek elektro 2004, kamar saya adalah kamar kos ternyaman, sekali saja menyentuh tempat tidur, niat belajar sebesar apapun akan kalah dengan suasana tidur yang luar biasa haha), di depan komputer, kami sedang menonton video rekaman wisuda itu. Kami terdiam, menyimak video itu layaknya nonton film drama, mulai dari prosesi ketika wisudawan akan memasuki graha sampai
ketika kami tiba di graha. hahaha…ternyata banyak yang terlewat. Barulah kami ngobrol  tantri “hahaha, ternyata kayak gini toh wisudanya,. baru dapet “feel”nya setelah nonton ini..ya allah..” saya “wisuda lagi yuk tan :p“.

Hikmah apa yang di dapat? Persiapkan semua dengan baik!

8 thoughts on “Tragedi Wissudah

  1. wahakakakakaa… ikut deg2an membacanya dari awal sampe akhirnya boleh masuk! ck ck ck.. para gadis, kenapa kalian suka lama kalo dandan? eh, ibu salon itu yang mestinya dijitak, mau duitnya aja tapi personilnya kurang, hwwwkkww…

  2. @ris : nyalon ris😀 hehe..
    @fin : sama dulu fin, saya langsung ke tkp sama orang tua saya.

    Klo mengingat zaman2 wisuda saya, waduh… kayaknya biasa aja. Soalnya klo wisuda elektro ITB, yang paling berkesan adalah selepas keluar dari gedung sabuga ada tradisi arak-arakan dan perploncoan terhadap si wisudawan. Nah pas perploncoan inilah, entah itu telur busuk campur apalah dilemparin ke wisudawannya. Nah dulu saya malah ngilang…haha, jadinya pas keluar dari sabuga ya udah selesai ceritanya. Gak berkesan, malah gak ada fotonya wisudawan saya lagi. Pas ibu saya nanyain, “mana fotonya”..oh ya bodohnya diriku.

  3. @budiono : hahahaaa….sebenarnya dandannya gak lama sih, ngantrinya yang lama…kenangan yang tak mungkin terlupa.

    @Fifin Nugroho : hahaa…jadi tragedi yang super dasyat klo mas fifin ke salon dulu sebelum ke tkp..

    @Iput : iya put, nyalon ke salon, bukan nyalon jadi caleg. waahh..walaupun diawali dengan tragedi itu, alhamdulillah masih bisa poto2 bareng orang tua setelah wisuda…eh, tp kan iput bakal wisuda lagi.

  4. hehehe ikut deg2an jg mbacanya. Kalau saya 2 kali wisuda, juga ndak prepare ke salon. make up sendiri (belajar dikit2 ^^), pake kebaya-jibab sendiri . . . temanya minimalis.

    1. waah…keren mbak yuli ini…hehee..jadi malu..itu juga pertama kalinya dandan di salon…berdandan selayaknya perempuan, 4 tahun kuliah di elektro, temen2 cowok tidak menganggap saya perempuan…eh, bahkan sampai sekarang…sediiihh…malah curhat…hahahaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s