Kisah di Angkot

Hari itu hari sabtu. Setelah menyelesaikan urusan di salman, saya membeli jus strawberry di depan kampus dan kemudian jalan menuju jalan Ir.Juanda untuk naik angkot menuju stasiun. Tak menunggu beberapa lama, angkot dago-sthall pun menghampiri. saya masuk dan setelah itu ada seorang ibu yang menggendong anak perempuan kecil dengan perban di kepala dan anak laki2 yang kira2 berumur 4tahun. dan cerita inipun dimulai :

Angkot berisi 7 orang di belakang, dua orang bule, klo dilihat dari logatnya mungkin dari rusia, dua orang bapak2, seorang ibu dan tentunya ibu beserta dua anaknya yang masuk angkot setelah saya td. Saya duduk persis di sebelah ibu itu. Setelah duduk dan menenangkan anaknya yang terus menangis, si ibu bilang ke sopir turun di stasiun dengan menyerahkan uang 1500, yaahh…tarif angkot yang tidak biasa untuk perjalanan dari kawasan dago ke stasiun, tentunya dengan sedikit percakapan si ibu dengan sopir dan pastinya dengan bahasa sunda yang saya  belum paham betul artinya. Kemudian percakapan saya dan si ibu dimulai :

saya : anaknya sakit apa bu? (si anak dalam gendongan yang terus meronta)

si ibu : barusan operasi neng, td tidak bisa nebus obat, sehingga obat untuk penahan rasa sakitnya pun tidak diberikan, kasihan,.pasti kesakitan. Saya tidak punya uang, untung td pak sopirnya baik mau dibayar 1500 sampe stasiun.

saya : owwh..adeknya jatuh ya bu? (jus strawberry yang tdnya enak bgt udah gak ada rasanya,.kasihan si ibu ini, pikiran saya jadi kemana2..merasa diri ini sangat beruntung namun kurang bersyukur)

si ibu : iya neng, kecelakaan. ini mah masih untung, bapaknya udah gak tertolong.

saya : owwh..(lagi2 cuma kata itu yang keluar dari mulut saya, hemm…betapa menderitanya si ibu) ibu ke stasiun mo pulang kemana?

si ibu : sarijadi neng, tp ntar jalan aja kayaknya

saya : angkot yang ke sarijadi itu yang stasiun-sarijadi kan bu? (malah pertanyaan aneh yang keluar, udah jelas2 klo ke sarijadi ya angkotnya stasiun-sarijadi, kan saya tiap hari kerja juga naik angkot itu..krik krik, sebenarnya mo memastikan kenapa si ibu bilangnya “mo jalan aja kayaknya”)
si ibu : iya neng, tp saya gak punya uang untuk naik angkot.
saya : owwh…(ckckck…speechless, mata udah terasa panas, jalan menuju BIP macet,selera untuk menghabiskan jus strawberry yang tadinya diniatkan untuk menemani macetnya bandung pun lenyap. jadi flash back kehidupan saya dari kecil sampai sekarang, sungguh anugrah yang tak ternilai..subhanallah alhamdulillah)

Tiba2 ketika mata saya terus memanas dan menahan agar tidak berkaca2, seorang ibu (yang duduk di seberang saya, klo dilihat dari penampilannya, mungkin dia orang yang mapan secara finansial, rapi, cantik) memberikan sebuah kertas dan hanya bilang “ini” sambil tersenyum, saya kaget dan membalas senyum plus “terimakasih”. tulisan dalam kertas itu:

tidak usah dipercaya
saya sudah 3x
ketemu dg model
begini.
waktu itu juga lang
sung saya kasih uang
thanks

A******i (tidak bisa saya sebutkan namanya)

Setelah membaca tulisan dalam kertas td, saya jadi semakin sedih,..klo memang si ibu yang disamping saya ini berbohong, betapa menyedihkannya, miskin harta, miskin iman, miskin moral. Apakah tidak ada cara lain untuk menjemput rizkiNya…begitukah protret orang2 susah di kota ini?hemm,..
Jadi ingat beberapa modus “cara meminta uang” yang pernah saya alami :
1. saat jalan sendiri di jalan dayang sumbi, ada bapak2 tua yang tanya arah ke daerah tertentu (tepatnya saya lupa dan itu bukan dikota bandung)
kemudian bilang gak punya ongkos.
2.saat di angkot menuju jalan pasir kalili, ada nenek beserta cucunya, dan langsung bilang klo gak punya ongkos.
Tapi belum pernah mendapati modus yang seperti ini, mengaku kalau suami meninggal,dll. Yaah.. siapa tahu juga si ibu ini memang benar. Entahlah…perasaan jadi campur aduk jadi satu, klo si ibu ini berkata benar, ya allah sungguh besar cobaannya, klo si ibu ini berbohong, ya allah semoga Engkau ampuni dosanya..

Saya mengambil hikmah dari kejadian ini, karena sesuatu tidak ada yang kebetulan, allah berkehendak saya harus bertemu dengan ibu ini untuk mengingatkan saya agar selalu bersyukur dan menggunakan semua nikmat yang allah berikan ini dengan bijak. Subhanallah…alhamdulillah…
Terlepas bohong ato tidaknya si ibu itu, tentunya saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk beramal ini.

Mari bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan kepada kita🙂

7 thoughts on “Kisah di Angkot

  1. apa pun di dunia in i pasti ada hikmahnya.
    ntah tu orang boong ato gak, yang jelas kita harus bersukur karena masih diberi kemudahan dalam melakukan segala hal untuk pemenuhan kebutuhan kita…..

  2. kalo aku pernah disamperin sama bapak2 atau ibu2 yang uda tua, tp kalo ak liat mereka lagi perlu duit bgt, setidaknya buat pulang, ak g ngerti bisa saja uangny hilang atau terjatuh dmn. Jadi ak ngebayangin kalo ak sendiri bisa saja uangny terjatuh, dan perlu uang jadi ak kasi aja ke ibu2 / bpk2 itu.
    *hehe kasusnya emang agak beda ya*

    Ya ALLAH, smoga kita senantiasa diberi anugerah untuk bersyukur merasakan smua nikmatnya.
    bersyukur karena Allah lah yang memberi rasa syukur itu kepada kita sebelum bnr2 merasakan nikmatnya

  3. Waktu pertama sy baca rasanya jleb…wah iya ya kok jadi sy kadang kurang bersyukur, maunya minta lebih terus. tapi pas ngebaca endingnya, ya udahlah ya klo mau ngasih niatnya kan amal dari awal terlepas ibunya itu bohong atau tidak.

    Oh ya ris, artikelnya inspiratif. tulisan yang sangat bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s