Posted in cerita

Salah 3

DSC00

Mereka adalah salah 3 dari orang-orang terbaik yang datang dalam hidup (mengambil istilahnya papah). Banyak yang telah dilalui bersama. Mulai dari maba sampai telat datang saat wisuda. Sekarang di saat semua mengejar mimpi di tempat masing-masing, 17 agustus kemarin kumpul di bandung. Yang dari Surabaya mengaku mendapat panggilan tugas negara dari Gedung sate (mungkin disuruh ngipasin satenya kali), yang dari BSD mengaku ingin bertemu artis dari banyuwangi (dan berbelanja sepertinya) dan dari Jakarta mo nonton film “Merantau” dan ketemu dengan anak-anaknya di bandung (hehehe,…bener gak siyy)

Continue reading “Salah 3”

Advertisements
Posted in cerita

Kelas B

Cerita tentang “Kelas B” ini saya ambil dari buku si cacing (cerita ke-7). Berikut cerita singkatnya:

Beberapa tahun yg lalu, sebuah penelitian di bidang pendidikan dilakukan di inggris. Di sebuah sekolah, ada dua kelas dengan siswa yang berumur sepantar. Pd akhir tahun ajaran, dilakukan ujian untuk pembagian kelas pd tahun berikutnya. Akan tetapi, hasil ujian tidak diumumkan, hanya kepala sekolah dan pakar psikologis saja yang mengetahui. Dlm kerahasiaan (hanya kepala sekolah dan pakar psikologis yang tahu), anak2 yang peringkat 1 ditempatkan dengan siswa peringkat 4,5,8,9,11.dst. Siswa dibagi menjadi 2 kelas dengan acak, diberi fasilitas yang sama, diajar dengan guru dengan kualitas yang sama. Semuanya dibuat setara mungkin, kecuali 1 hal : satu disebut “kelas A” dan satunya “kelas B”. Semua orang berfikir bahwa, anak2 di kelas A adalah anak2 yang lebih cerdas dari anak2 di kelas B. Ketika akhir tahun lagi diadakan ujian, hasilnya diumumkan. Anak2 di kelas A menunjukkan prestasi yang lebih baik drpd anak2 kelas B. Anak2 di kelas A benar2 menjadi anak-anak kelas A (nomor), dan anak2 kelas B, walaupun setara pada tahun lalu, mereka menjadi anak-anak kelas B (nomor 2) sungguhan. Seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.

Fenomena tersebut banyak terjadi dalam masyarakat kita, dan kadang saya sendiri men-judge diri saya termasuk dalam “kelas B”. Kata-kata yang biasa muncul adalah kata-kata kurang bersyukur, putus asa, tidak percaya diri, berburuk sangka pada Sang Pencipta, dst. Pikiran2 ini yang akan membentuk kita. Padahal kita semua diciptakan terbaik oleh Sang Pencipta, so rasa syukurlah yang seharusnya kita panjatkan. Memaksimalkan segala potensi yang ada dan optimis bahwa kita bisa.

Posted in riris banget

Teapot

AAAAAjzFWEcAAAAAASvH6QApakah bisa sebuah teko berisi teh ketika kita tuangkan ke gelas keluar kopi?

Secara logika tidak bisa,.

Ketika diri kita “berisi” ilmu, pengetahuan, akhlaq, wawasan yang baik, maka setiap sikap atau perbuatan maupun perkataan yang merupakan respon atas sesuatu hal, yang akan keluar adalah yang baik-baik pula.

Ketika kita berperilaku dan berkata yang buruk pada orang lain, bisa dikatakan bahwa begitu pulalah apa yang ada di dalam diri kita. Buruk!

Maka marilah membiasakan diri (karena kebiasaanlah yang membentuk kita) memperkaya diri kita dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat.

sebagai instropeksi diri