Lebih Lambat Lebih Baik

Lebih lambat lebih baik, kata2 yang saya dapat ketika balik ke bandung kemarin. Di dalam kereta saya sempat ngobrol dengan seorang laki-laki yang 2 tahun lebih tua dari adik saya, angkatan 2007. Dia ternyata siswa masinis atau calon masinis yang masih tahap belajar,training, pelatihan di jogja.

Namanya dimas.  Sekilas tentang dimas, dia sempat ketrima PMDK di ITS dengan jurusan sistem perkapalan. Karena dia kurang sreg, akhirnya tidak diambil. Walhasil, selama setahun nganggur, baru ketika ada pembukaan PT.KAI tahun 2008 dia ikut tes dan ketrima. Dia menceritakan pengalaman pelatihan dan trainingnya yang berpindah2 tempat, ttg direksi PT.KAI yang baru saja dirombak sampai bercerita ttg amanah seorang masinis.

Untuk menjadi seorang masinis, dia harus menjadi asisten masinis dulu selama proses pelatihan dan setelahnya (jangka waktunya berapa, saya lupa). Setiap masinis menjalankan kereta dengan menggunakan acuan yang namanya P100, semacam prosedural yang berisi rute perjalanan,dll. Disitu juga dijelaskan ttg kondisi rel, bantalan rel, dst sehingga antara satu tempat ke tempat lain (tergantung parameter2 td) ada maksimal kecepatan yang harus diatur oleh seorang masinis. Jadi ketika di tiket kereta tercantum jam berangkat dan jam kedatangan, itu adalah kondisi paling baik dengan kecepatan yang sesuai. Mengutip penjelasannya, klo masinis menjalankan kereta lebih cepat dari jadwal atau lebih cepat dari ketentuan yang tertera di P100 maka si masinis tersebut akan disidang oleh semacam komisi kedisiplinan karena menyangkut keselamatan penumpang. Sambil tertawa dimas bilang “jadi, klo mbak pengen lebih cepat sampai, maka kami sebagai masinis malah punya slogan Lebih Lambat Lebih Baik, hahhahaa”. Tentunya ini hanya becandaan dia saja. Intinya, lanjut dimas, bagi setiap masinis, cepat tidaknya kereta sampai ke tujuan bukanlah parameter keberhasilan, tapi keselamatan penumpang adalah yang paling penting. Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi seperti kondisi rel beserta bantalannya yang udah di bangun dr jaman penjajahan dulu, kondisi kereta tentunya, dst.

kereta

Dari perbincangan dengan dimas, saya jadi bisa legowo klo kereta yang saya tumpangi terlambat. Tapi tentunya sebagai masyarakat pengguna jasa kereta api, saya tetap berharap, Kinerja PT KAI semakin baik sehingga tidak perlu ada keterlambatan jadwal kedatangan, gerbong yang terbakar (pernah saya alami tahun lalu), kecelakaan kereta, dst.

Melihat dimas dengan semangatnya untuk berkarir di PT KAI dan rencana kuliahnya, saya jadi teringat adek-adek saya angkatan 2007 sistem perkapalan ITS, ada yayak, ndaru, anti, dan rombongannya yang dengan semangatnya ikut menyukseskan Ocean Week, PIMITS, dan KRI-KRCI 2008 ketika perjuangan dulu di BEM ITS,..miss u all,.terima kasih atas semuanya…..

27 thoughts on “Lebih Lambat Lebih Baik

  1. @ akatsvki : yup, alumni teknik elektro ITS

    @edi petruk : sepakat,.amiinn

    @ dafhy : hmm,..belum pernah ngobrol dengan pilot, jadi saya blm tau,.klo setau saya, pesawat punya waktu terbang tertentu, mungkin disesuaikan dengan bahan bakarnya,.jadi kayaknya lebih lambat lebih baik ini tidak berlaku di pesawat,.hehehe….CMIIW

    @ arifudin : amiiinn,..

  2. @ nuyos : kereta2nya masih sama seperti yang dulu kok😀

    @ jidat : iya, asapnya hitam,..klo asamnya pink, malah ngeri tuh,..hehehe,..

    @ heru : wew,.coba saja,.menurut saya, (untuk perjalanan jauh) lebih nyaman drpd naek bus.

    @ cah ndeso : hmm,..sepertinya gak ada hubungannya sama kereta yak,.

    @ morishige : tidak bijak untuk mencari sapa yang salah,.yang perlu dipikirkan gmn peningkatan kualitas transportasinya,.😀

    @ Pakwo:pindah rumah baru : salam sukses juga pak,..sepakat,.yang penting selamat,..

  3. wew, sebagai salah seorang railfan saya baru tau mengenai slogan itu. Good article, dulu waktu masih kecil saya punya cita2 menjadi masinis lho, tapi sekarang sebagai penggemar kereta api aja🙂

  4. @dickana : yup, sepakat
    @oky : wew,…oky jadi masinis?? boleh tuh,..
    @fifin : mungkin oky lebih sering menggunakan kereta api drpd mas fifin, so sudah pada level menggemari,..

  5. sebenarnya kereta apinya ( dengan log CC ) bisa lari sampai 100 k/jam, tapi betul apa yang dikatakan calon masini tadi, di tiap wilayah punya masalah dengan kondisi rel masing-masing, ada yang sudah pake rel tipe R 54 yang lebih baik ,tapi masih banyak yang menggunakan R 44 atau rel jadul. sehingga kereta harus mengurangi kecepatan seperti yg sudah ditentukan. Coba kalo anda lewat jalur solo – kutoarjo, mungkin kereta bisa dipacu sampai 90 hingga 100 k/jam karena selain sudah pakai rel tipe R 54 juga menggunakan double trek. demikian

  6. nice article ris.
    klo di sini makin lambat makin baik ya. Klo ada kereta dengan kecepatan 280/300 km/jam dari solo-bandung setiap 2 jam gimana ris ?

    sy sudah merasakan perjalanan kereta dari seoul-busan selama 2jam naik kereta KTX (ini kereta berbentuk peluru yg merupakan tercepat di korea dengan kecepatan 280-300 km/jam). Hm…pengalaman naik kereta KTX berdecak kagum. Nyaman, kencang, tidak terasa guncangan, full executive dan yang pasti tidak ada di dalam kreta yang teriak teriak “Aqua mijone, kopi2” atau pengamen. di dalamnya tidak terasa guncangan, nyaman. saking cepetnya gak akan bisa ngeliat pemandangan di luar, bahkan hujan di luar hanya terlihat seperti setetes embun.

    ya meskipun lambat, meskipun kurang disana-sini sy tetap suka ko sama kereta api indonesia, terutama kerta lodaya dari solo-bandung setiap jam20 malem berangkatnya. banyak kenangan disana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s